Tentu kata mainstream sudah terdengar familiar di indonesia.
Mainstream berasal dari 2 kata bahasa inggris. Main yang berarti utama dan
stream yang berarti arus. Yang bila di sederhanakan memiliki makna kebiasaan
utama atau kebiasaan umum. Dan anti-mainstream merupakan kebalikannya.
Berbeda itulah yang orang pikirkan ketika mendengar kata
anti mainstream. Begitupun saya, seorang anak muda kelahiran 98 yang
mengidolakan Liverpool FC, klub yang berbasis di kota pelabuhan Merseyside,
Inggris.
Arsenal, Manchester United, Madrid atau Juventus mungkin
menjadi klub luar idola anak kecil tahun 2003 -2004 an disaat pertama kali
mencoba paham soal sepakbola, olahraga yang memang sangat familiar di negeri
ini. MU dan Arsenal menjadi klub yang banyak di idolakan anak anak seumuran
saya saat itu, memang untuk anak kecil usia 5 tahun klub selalu menang dan
juara menjadi patokan klub idola mereka. Namun berbeda dengan saya nampaknya
deretan klub itu tak mendapat rasa nyaman dimata ketika menonton
pertadingannya.
Pertandingan liga inggris antara Liverpool vs Manchester
United 9 november 2003 menjadi awalan saya mengenal liverpool. Mungkin satu
yang diingat saat itu adalah obrolan kecil dengan bapak sendiri. Yang
menanyakan saya dukung yang mana? Saya otomatis menjawab klub yang bertuliskan
LIV di papan skor tv. Dan sontak bapak saya tertawa karna buat apa anak umur 5
tahun memakai baju Manchester United no 19 bertuliskan YORKE ? mendukung
Liverpool . memang jersey bola pertama yang saya miliki adalah jersey yang
diketahui sebagai rival abadi. Mungkin liverpool saat itu kalah 1 -2 tapi ada
rasa berbeda ketika menontonnya. Dan sejak saat itu Liverpool menjadi klub yang
mendapat perhatian setiap ada pertadingan bola di tv.
Final liga champions 2005 melawan ac milan semakin membuat
benar kalau passion ini cocok dengan liverpool. Pertadingan yang menurut saya
merupakan pertandingan liverpool terbaik yang pernah saya saksikan sampai saat
ini, dimana selama ada waktu apapun bisa terjadi. Liverpool yang tertinggal
trigol dari ac milan (Maldini 1’, Crespo 39’, 44’) dibabak pertama, mampu
menyamakan kedudukan di babak kedua dengan trigol dari (Gerrard 54’, Smicer 56’
dan Alonso 60’) dan Memenangkan pertandingan final lewat drama adu penalti,
gelar pertama yang disaksikan langsung oleh mata kepala sendiri.
Sebuah kebanggaan melihat tim yang di idolakan juara memang
hal yang wajar dan berharap itu berlanjut di musim musim selanjutnya, tapi
nyatanya musim musim selanjutnya di liga liverpool masih belum bisa membuktikan
sebagai juara, dan hanya bisa berada di peringkat zona liga champions, sempat
di 2007 liverpool kembali ke final liga champions melawan musuh yang sama pada
final di instanbul 2005, Ac Milan. Sempat berharap liverpool membawa pulang
lagi piala sikuping besar namun nampaknya AC milan berhasil membalaskan dendam
nya di final dengan skor 2 – 1 lewat dua gol dari Inzaghi 45’ & 82’
berbalas satu goal dari Dirk Kuyt 89’. Musim pun terus berganti tapi liverpool nampaknya belum bisa
menunjukan tajinya sebagai tim besar. Bahkan bergonta ganti pelatih sudah
begitu sering di rentetan tahun 2010 – sekarang. Dan ciri khas liverpool mungkin
selalu menjual pemain bintangnya di setiap musim.dimulai dari Xabi Alonso &
Arbeloa pada 2009 terus dilanjutkan Torres, Mascherano di tahun berikutnya
mesikpun di musim tersebut liverpool mendatangkan Luis Suarez dan melakukan
perjudian dengan membeli Andy Carroll dari Newcastle. Diketahui suarez memang
topskor Eredivisi ketika membela ajax amsterdam. Mungkin lain cerita dengan
andy carroll pembelian mahal yang memang gagal menunjukan kualitasnya. Dan
musim musim berikutnya pun masih terus berlanjut membeli pemain. Namun
pembelian terbaik menurut saya adalah musim 12/13 dimana di tengah musim
mendatangkan Coutinho & Sturridge.
Dan terbukti musim berikutnya skuad liverpool semakin padu, duet
SAS dan coutinho ditambah skuad muda liverpool sterling dan lainnya makin
menunjukan kualitasnya. Namun sayang sempat menjadi pemuncak klasemen dan
kandidat kuat juara liverpool melakukan kesalahan seperti biasa. Inkonsistensi
permainan serta blunder terpeleset steven gerrard saat melawan chelsea menjadi
faktor liverpool gagal juara. Dan efeknya suarez pun hengkang ke barcelona di
akhir musim. Dan itu seperti dejavu dimana pemain bintang selalu pergi di akhir
musim. Musim berikutnya tak ayal beda. Sering cederanya sturridge serta tak ada
ujung tombak yang lain menjadi sebuah poin bahwa liverpool termasuk saya belum
bisa move on dari Suarez. Sterling pun hengkang ke Manchester city menyusul
tradisi para pendahulunya yang hengkang di setiap akhir musim ditambah perginya
sang kapten dan ikon liverpool Steven Gerrard ke MLS. Menambah pesimis saya
tentang kembalinya liverpool ke papan atas liga inggris.
Era baru mungkin diharapkan saat Jürgen Klopp menunggangi
klub ini. pelatih yang memang favorit saya. Musim pertamanya berjalan baik
meskipun memakai skuad warisan Brendan Rodgers. Meskipun tetap berda di papan
tengah dan cerita lain di Europa league capaian sampai partai final melawan
sevilla serta pertandingan babak babak sebelumnya pun sangat menarik apalagi
ketika bersua Borrusia Dortmund di Perempat final dan meskipun hasilnya hanya
bisa runner up.
Musim ini musim kedua Klopp. Transfer awal musim menjadi
perhatian saya karna ciri khas klopp adalah menemukan pemain muda bertalenta.
Sadio Mane, Wijnaldum, Karius serta Joel Matip yang didapatkan dengan gratis
menjadi pemain yang mendarat di anfield awal musim, tapi saya heran ketika
pemain berumur 30-keatas (Klavan & Manninger) pun dia datangkan.
melumat barcelona 4 - 0 di International Champions Cup dan
menang 3-4 vs arsenal di laga pembuka liga inggris menjadi harapan baik. Meski
sempat kalah oleh Burnley, pertandingan liverpool sampai jeda paruh musim ini
memuaskan dan menjadi kandidat juara. Tapi awal tahun 2017 nampaknya berbalik
360 derajat hanya menang dua kali sampai pertengahan februari. Dan masih
berkutik di peringkat 4-5 nampaknya mengurangi harapan saya Liverpool juara di
musim ini. dan berharap musim depan lebih baik. tapi apapun itu saya tetap
mencintai liverpool, klub yang membuat saya masih setia dengan anti-mainstream
seorang supporter. YNWA! *Rafly Sofwan Mulfi